TUGAS PROSES MANUFAKTUR II


NAMA : M. RAFIF FATHI RIFQI
NIM : 03051182328017
KELAS : A INDRALAYA


Pengertian Additive Manufacturing (AM)


 











Additive Manufacturing (AM) atau manufaktur aditif adalah proses pembuatan komponen atau produk dengan menambahkan material secara bertahap (layer by layer) dari data model digital 3D. Proses ini berlawanan dengan manufaktur subtraktif, seperti milling atau turning, yang justru menghilangkan material dari blok besar untuk membentuk bentuk akhir.

AM dapat menggunakan berbagai jenis material, seperti plastik, resin, logam, keramik, dan komposit. Proses ini banyak digunakan dalam:

1. Pembuatan prototipe cepat (rapid prototyping)

2. Produksi komponen kompleks dalam industri pesawat terbang, otomotif, kesehatan, dan arsitektur

3. Produksi komponen akhir dalam jumlah kecil (low volume production)

Karakteristik utama Additive Manufacturing:

1. Proses berdasarkan desain CAD digital.

2. Material ditambahkan lapis demi lapis.

3. Dapat menghasilkan bentuk geometri yang kompleks.

4. Minim pemborosan material.

Klasifikasi Additive Manufacturing

Menurut standar internasional (misalnya ISO/ASTM 52900), teknologi manufaktur aditif dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kategori:

• Material Extrusion
Contoh: Fused Deposition Modeling (FDM)

• Vat Photopolymerization
Contoh: Stereolithography (SLA)

• Binder Jetting
Contoh: Jet Binder

• Sheet Lamination
Contoh: Laminated Object Manufacturing (LOM)

• Powder Bed Fusion
Contoh: SLS, SLM (tidak dijelaskan detail di materi ini)

• Directed Energy Deposition (DED)

Tahapan Umum Proses Additive Manufacturing


Walaupun setiap teknologi berbeda, secara umum semua proses AM melalui tiga tahap utama, yaitu:

A. Pre-Processing (Persiapan)

• Mendesain model 3D menggunakan software CAD.
• Konversi file desain ke format STL atau AMF.
• Melakukan slicing untuk membagi model menjadi lapisan tipis.
• Menentukan orientasi, support, dan parameter cetak (kecepatan, ketebalan layer, suhu, dll).
• Memeriksa potensi kesalahan desain (cek overhang, rongga tertutup, dsb).

B. Processing (Pencetakan)

• Mesin AM melakukan proses pencetakan lapisan demi lapisan sesuai data slicing.

• Material ditambahkan atau dipadatkan secara selektif (sesuai jenis teknologi).

• Struktur support ikut dicetak bila diperlukan untuk menopang bagian tertentu.

C. Post-Processing (Penyelesaian)

• Melepaskan support dan sisa material.

• Proses curing atau sintering tambahan bila perlu.

• Finishing permukaan (pengamplasan, pengecatan, coating, polishing).

• Inspeksi dimensi dan kualitas hasil cetak.

Teknologi Additive Manufacturing

Dalam dunia manufaktur aditif, terdapat berbagai teknologi pencetakan yang digunakan sesuai dengan jenis material, kebutuhan desain, serta akurasi hasil yang diinginkan. Salah satu teknologi yang paling umum adalah Fused Deposition Modeling (FDM). Proses ini menggunakan filamen termoplastik seperti PLA, ABS, atau PETG yang dipanaskan hingga meleleh, kemudian diekstrusi melalui nozzle dan disusun secara berlapis sesuai bentuk model digital. Setelah satu lapisan selesai, nozzle bergerak ke atas dan proses berlanjut hingga terbentuk objek tiga dimensi. FDM populer karena biaya materialnya murah, mudah dioperasikan, dan cocok untuk pembuatan prototipe cepat. Namun, teknologi ini memiliki keterbatasan pada akurasi dimensi, kualitas permukaan, serta kekuatan mekanik yang dipengaruhi oleh arah pencetakan. Masalah umum pada FDM antara lain warping akibat pendinginan yang tidak merata, nozzle tersumbat, dan delaminasi antar lapisan.

Teknologi kedua adalah Stereolithography (SLA). Berbeda dengan FDM, SLA menggunakan resin fotopolimer cair yang dikeraskan lapis demi lapis dengan sinar laser UV. Proses ini menghasilkan permukaan yang sangat halus dan akurasi dimensi yang tinggi, sehingga banyak digunakan untuk mencetak komponen dengan detail presisi seperti model gigi, miniatur teknik, dan cetakan perhiasan. Meskipun demikian, teknologi ini memiliki kelemahan dari segi biaya resin yang tinggi dan sifat material yang tidak cocok untuk beban berat. Selain itu, resin juga bersifat toksik dan membutuhkan proses curing tambahan setelah pencetakan selesai. Masalah umum yang muncul pada SLA adalah distorsi bentuk akibat penyinaran berlebih, sisa resin yang sulit dibersihkan, serta risiko retak saat proses curing.

Teknologi berikutnya adalah Jet Binder (Binder Jetting). Dalam proses ini, material berbentuk bubuk seperti logam, pasir, atau keramik disebar merata dalam lapisan tipis. Kemudian, printhead menyemprotkan cairan pengikat (binder) pada area tertentu sesuai bentuk layer. Setelah proses pencetakan selesai, komponen yang masih rapuh dikeringkan dan biasanya melalui proses sintering agar menjadi lebih kuat. Jet Binder unggul dalam kecepatan produksi dan tidak membutuhkan struktur support, karena bubuk yang tidak terikat berfungsi sebagai penopang. Teknologi ini cocok untuk produksi dalam jumlah banyak dan komponen logam yang kompleks. Namun, kelemahannya adalah permukaan cetakan yang kasar, kekuatan awal yang rendah, serta kemungkinan terjadinya penyusutan saat proses sintering. Cacat umum yang muncul antara lain distribusi bubuk yang tidak merata, porositas tinggi, delaminasi, dan distorsi bentuk.

Teknologi terakhir yang dibahas adalah Sheet Laminating (Laminasi Lembaran). Teknologi ini bekerja dengan menumpuk lembaran kertas, logam tipis, atau plastik yang dipotong sesuai bentuk layer, lalu direkatkan satu sama lain menggunakan perekat atau pemanasan. Proses ini memiliki keunggulan pada biaya yang relatif rendah dan kecepatan produksi yang tinggi, terutama bila menggunakan kertas sebagai bahan utama. Namun, sheet laminating kurang cocok untuk bentuk yang sangat kompleks atau komponen yang membutuhkan kekuatan tinggi. Selain itu, akurasi dimensi sangat tergantung pada proses laminasi dan pemotongan lembaran. Masalah umum yang sering terjadi pada teknologi ini adalah delaminasi antar lembaran, ketidaksejajaran lapisan, ketidakkonsistenan ketebalan, serta cacat akibat distribusi perekat yang tidak merata.

Perbandingan Teknologi AM



Defek atau Masalah Umum dalam Proses Additive Manufacturing


KESIMPULAN

1. Additive Manufacturing merupakan teknologi revolusioner yang memungkinkan pembuatan produk dengan bentuk kompleks, cepat, dan efisien.

2. Terdapat berbagai jenis teknologi AM, masing-masing memiliki karakteristik, kelebihan, dan kekurangan tersendiri.

3. Pemilihan teknologi harus mempertimbangkan material, biaya, akurasi, dan fungsi akhir produk.

4. Untuk mendapatkan hasil cetak optimal, pengaturan parameter proses, perawatan mesin, dan post-processing sangat penting.

5. Masalah atau cacat seperti warping, delaminasi, atau porositas dapat dikurangi melalui pengendalian proses yang baik.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

WELDING INSPECTION

Tugas TIK 49-50 tanggal 8 september 2020